Esspresso
“Me....selamat
ya....kamu juara lagi...bahkan sampai lulus masih saja susah merebut posisimu
itu...” kurang lebih seperti itulah ucapan teman SMPku saat kelulusan. Ya,
memang aku menjadi juara dengan nilai tertinggi, meski hanya dalam satu
sekolah. Sebagian besar mengucapkan selamat dengan senyum di wajahnya, sebagian
tanpa ekspresi. Bagi teman-temanku, aku adalah anak yang beruntung, terlahir di
tengah keluarga yang dihormati dan penuh kasih akung. Bagiku itu tak lebih dari
sekedar beban, beban ketika tak berprestasi, beban ketika mendapat nilai jelek.
Bagaimana tidak, jika keluargaku berantakan, mendapat nilai bagus seperti
sekarang akan lebih mengesankan. Jika harus mendapat nilai jelek, ada kambing
hitam sebagai alasan. Tapi, bagaimanapun aku tetap bersyukur terlahir di tengah
keluargaku.
Aku terlahir dengan nama
Merricury, Teman-temanku biasa memanggilku Meri, ya nama yang seram bukan. Tapi
bagi keluargaku nama itu indah sekali, mengingat merkuri itu logam yang memiliki
banyak keunikan, meski bentuknya cair dan seperti tak memiliki kekuatan, ia
mampu membopong stell dengan berat 200 gr hanya dengan volume yang kurang dari
100 ml, ia mampu membuat tungsten berenang dan keunikan lainnya. Orang tuaku
berharap dengan nama itu aku bisa menjadi pribadi yang kuat namun tetap rendah
hati. Aku memiliki dua kakak laki-laki,
Umar dan Habib. Mereka sangat berbeda, kak Umar tegas, cuek, selalu tampil rapi
dan sangat sederhana, sebaliknya kak Habib Childish,
humoris, cerewet dan sangat selebor. Kak Umar terpaut 7 tahun denganku dan 5
tahun dengan kak Habib, Jadi sikapnya sangat dewasa.
Acara kelulusan sudah seminggu
yang lalu, aku lantas meminta bantuan kak Umar untuk mengurus ijazah dan
lainnya. Karena kebetulan kak Umar sedang liburan kuliah, dengan senang hati
dia mengurus semua kebutuhanku, mulai dari mendaftar masuk SMA favorit di
kotaku, Banyuwangi sampai keperluan tetek
bengeknya. Sesuai kesepakatan keluarga yang sama sekali aku tidak sepakat,
aku di masukkan ke SMA tempat kak Habib sekolah, SMA Sakura, selain karna SMA
itu SMA dengan akreditasi baik, SMA Sakura merupakan sekolah dengan gelar Juara
terbanyak di OSN Nasional, juga sebagai satu-satunya sekolah di Banyuwangi yang
ijazahnya diakui di Asia Tenggara. Namun yang terpenting adalah aku satu
sekolah dengan kak habib, yang bisa menjadi mata, mulut, dan telinga keluargaku
ketika aku disekolah.
Setelah melalui sederet tes
masuk, Alhamdulillah, aku dinyatakan
diterima di SMA Sakura. Dan besok adalah hari pertama aku masuk, dan aku harus
mengikuti MOS atau Masa Orientasi Siswa. Dengan bantuan kak umar, aku membuat
topi nenek sihir dari kardus bekas, tas ransel yang juga dari kardus bekas tak
lupa Id Card dari kardus yang ditempeli kertas.
“kak habib, kalau disekolah
bersikaplah seperti kita gak saling kenal ya kak,pliss”. Pintaku sambil
merampungkan Id Cardku yang dibantu kak umar.
“loh memangnya kenapa me?”
tanya kak umar padaku, kak umar memanggilku meme, begitu juga dengan kak habib.
“ soalnya kak...kalau semua
pada tahu aku adiknya kak habib, itu melukai harga diriku!” jawabku ketus
sambil melirik kak habib yang hanya tertawa terbahak sambil bermain gadgetnya. Ka
umar hanya tersenyum kecil.
Malam itu aku tidur dengan
sangat nyenyak, sambil memluk guling kesayanganku, menantikan hari pertama aku
masuk sekolah itu.
*********
Pagi sekali aku diantar kak
umar ke sekolah, karena memang siswa kelas 1 di larang membawa kendaraan sendiri.
Sebenarnya alasan kenapa aku tidak mau ada yang tahu kalau aku ini adik kak
habib, karena kak habib itu siswa yang terkenal. Selain karena dia ketua umum
Ekskul Pecinta Alam, ia Terkenal pinter meskipun selebor. Aku tak mau memikul
beban apapun di sekolah baruku ini. Karena pastinya semua akan membandingkanku
dengannya jika tahu kebenarannya.
Seperti sekolah sekolah
lain, kami di suruh melakukan hal yang aneh mulai dari menghitung rumput
sekolah sebelum masuk, meminta tanda tangan para osis, membaca puisis jika ada
pelanggaran, dan hal lainnya yang sangat tidak berguna. Untung saja hal itu
hanya dilakukan ketika jam jam luang, seperti ketika istirahat jam 10-10.30,
sebelum masuk jam 6-7 pagi. Selebihnya kegiatannya materi yang sebagaian besar
mengenalkan sekolah. Mulai dari guru, sistem pendidikan, cara penilian,
peraturan dan lainnya. Selama hampir seminggu begitulah kurang lebih kegiatan
di sekolah baru. Sampai di hari sabtu, SMA Sakura menghususkan hari itu untuk
Ekstrakurikuler. Sabtu ini aku dan temanku yang lain diperkenalkan dengan
masing masing ekstrakurikuler. Untuk sabtu ini kelasku mendapat giliran Pecinta
Alam.
Tepat pukul 7 pagi, seorang
wanita yang mengaku bernama mega masuk kelas diikuti dengan dua pria yang tak
ku kenal.’syukurlah bukan kak habib’ pikirku. Mereka mulai memperkenalkan apa
itu PA (Pecinta Alam) tugas dan kegiatannya. Suasana kelas mulai rame ketika 15
menit telah berlalu, aku yang sedari tadi hanya memainkan penaku mulai penat. Kertas
kosong di depanku menjadi korban coretan tanganku.hingga tiba-tiba suasana
hening kembali. Penjelasan kak megapun berhenti.
“lanjutkan saja” suara serak
basah dan berat itu sangat akrab di telingaku. Perlahan aku mengangkat kepala
untuk mencari tahu siapa si empunya suara. Benar sekali, kak habib. Aku langsung
menutup mukaku dengan buku didepanku. Berusaha menyembunyikan wajahku. Kulihat dari
balik buku mata kak habib yang tajam sedang berkeliling diseluruh kelas. Seperti
mencari sesuatu. Tak lama bel istirahat berbunyi. Kak mega mengakhiri
penjelasannya dan pergi berlalu bersama kak habib. ‘syukurlah ’batinku.
“waaah lihat mas yang tadi
masuk terakhir?!beh...wajahnya itu loooch...ganteng...senyumnya....”oceh rika
temen sebangkuku.
“eh...ii...iya...” jawabku
singkat. Masih tidak percaya apa yang dikatakan rika. Kasihan sekali rika,
masih belum tau seusil apa kak habib. Cerewetnya dan semuanya.belum lagi
selebornya dia.
“eh siapaaa ya namanya....”tanya
rika ke sekelompok cewek yang entah sejak kapan mulai mengerumuni mejaku.
“kak habib” jawabku enteng.
Semua mata tertuju padaku. Menatapku
heran.
‘Mati aku, aku lupa kalau
niatku untuk bersikap asing pada kak habib.’ Batinku. Aku mulai kebingungan
mencari alasan terlogis untuk menutupi hubunganku dengan kak habib.
“ehm...aku tahu dia di bagan
susunan organisasi PA. Ada fotonya juga loooh...” celotehku mencoba menjawab
yang mungkin akan mereka tanyakan.
“oooh...., aku kira kamu
kenal dia mer...” celoteh rika. Ku lihat tak satupun dari mereka curiga padaku.
Berarti aman.
Istirahat kali ini aku
memilih makan di kedai mie ayam yang rame. Salah satu kedai di foodcourt SMA
Sakura. Aku nekat karena penasaran. Selama seminggu aku masuk sekolah ini aku
selalu tak kebagian porsi mie itu. Apa sebegitu enaknya?, sampai selalu habis
sebelum waktunya. Hari ini aku bertekad untuk merasakannya.
Aku menyiapkan uang
digenggaman tanganku. Aku menyerbu masuk, berdesakan dengan siswa lainnya. Tapi
apa daya tubuh kecilku ini tak mampu menyingkirkan tubuh yang lain. Aku lihat
sebagian besar siswa menulis menunya dan meletakkannya di draft pesanan. Ada juga
yang datang, duduk dan langsung menerima pesanan mie yang terlihat lezat. Aku bingung.
Bagaimana sebenarnya format pemesanan mie ini?.
“hai...aku salman” suara
lelaki jangkung mengagetkanku. Kulihat tangannya menyodorkan ajakan untuk
berjabat. Aku balas salaman tangan itu.
“merri” jawabku singkat.
“mau pesan ? sini aku bantu.”
Dia menawarkan bantuan. “alhamdulillah” batinku, aku tersenyum dan menuliskan
pesananku di kertas yang ia pegang. Setelah selesai, dia menghilang dikerumunan
siswa yang memesan. Selama ini aku selalu bahagia memiliki tubuh imut. Karena selalu
mendapat perhatian lebih dari kakak kakakku. Juga orang tuaku. Selain itu,
selalu tersedia stok baju di seluruh swalayan dan butik. Tanpa memesan seperti
kak umar dan kak habib. Hanya untuk satu baju, harus menunggu sekian hari. Tapi
sekarang, aku iri dengan salman, laki-laki jangkung yang baru saja aku kenal. Dia
begitu mudahnya menerobos kerumunan itu. 10 menit kemudian, dia datang dengan
pesanan kami.
“aku keponakan ibu yang jual
itu, jadi aku bisa langsung masuk dan menyiapkan sendiri” cerita salman sambil
menyantap makanannya.
Aku tersenyum bahagia. Setidaknya
aku punya satu teman yang bisa membuatku tidak menunggu makanan. Setelah aku
cicipi kuahnya, hemb memang kuahnya enak, ditambah mienya yang dasarnya
memiliki rasa.hemb pantas saja kedai ini selalu ramai. Memang enak.
“kamu suka esspresso?!”
tanya salman saat melihatku begitu menikmati esspresso yang aku pesan.
“heemb. Rasanya murni dan
asli, benar-benar nikmat” jawabku sambil tersenyum.
“aneh...” sahut salman
sambil menggaruk kepalanya.
“kenapa aneh?!apa karena
biasanya yang minum ini orang berumur gitu??” jawabku jutek. Salman hanya
tertawa dan pergi meninggalkan foodcourt dan aku.
‘oh iya, anak kelas berapa
dia? Jurusan apa?’ batinku. Benar-benar kurang peduli ya aku ini. Tak lama mie
ku habis, bel tanda masuk berbunyi. Akupun bergegas kembali ke kelas.
******
“assalamualaikum “ ucapku
ketika memasuki rumah. Kutengok di rak sepatu masih belum ada sepatu kak habib.
Artinya ia belum pulang . aku masuk ke dalam, ke ruang baca tempat dimana
biasanya abuya(atau buya adalah panggilan kami ke ayah kami) menghabiskan
waktunya membaca.
“oh....adek.sudah pulang?!”
ucap buya menyambut uluran tanganku. Sambil dengan lembut beliau mengelus
jilbabku. Kemudian beralih mencium pipi ku.
“kak umar mana? Kok ga
jemput?” tanyaku pada buya.
“kak umar ngnter mimi ke
pasar, katanya ada temen kak umar mau berkunjung, jadi mimi mau masak besar”
jawab ayah sambil tersenyum.
“buya gak ada kelas?”
tanyaku singkat. Buya ku seorang dosen ilmu agama islam di suatu universitas
negeri di Banyuwangi. Buyaku yang memberikan nama pada kedua kakakku. Sedangkan
mimi (ibu) adalah peternak ayam. Mimi lulusan kimia, karenanya ia memberiku
nama merricury.
“buya belum ada kelas, masih
liburan” jawabnya singkat sambil tersenyum. Aku lupa sekarang masih musim
liburan para mahasiswa.
“Assalamualaikuuuum...”
terdengar ucapan salam yang mengalun alun di depan. Aku dan buya saling
menatap.
“pasti kak habib. Buya kenapa
sich kak habib gak dipondokin aja, biar belajar qori’ dengan berbagai lagu?! Biar
manfaat tuuuh teriakannya.” Celotehku yang selalu ribut dengan kak habib. Buyaku
tersenyum melihat tingkahku dan kak habib yang selalu menggodaku.
Kak habib menghampiriku dan
buya. Ia langsung mencium tangan buya.
“buya tau gak tadi ada yang
diajak kenalan sama cowok di kedai mie sekolah “ celoteh kak habib sambil
melirikku. Mulai menggodaku.
“buya meme ke kamar dulu”
pamitku yang gak mau meladeni ulah iseng kak habib.
“cie cie...malu tuh buya”
lanjut kak habib pantang menyerah. Buya hanya tersenyum. “buya meme di bantu
mesen mie.....” celoteh kak habib yang semakin hilang bersamaan dengan
langkahku yang semakin menjauh menuju kamarku.
Sesampai kamar aku
meletakkan tasku di atas meja belajarku. Membuka jilbabku dan membanting
tubuhku di atas kasur. Lelah sekali hari ini rasanya.
‘you and me we made a vow...’
terdengar lantunan suara sam smith dari ponselku. Kulihat ada beberapa pemberitahuan.
Diantaranya email dari sekolah yang membagikan jadwal pelajaran serta guru yang
bisa diikuti semester pertama ini. Aku membuka laptopku dan mulai memilih lewat
website resmi sekolah. SMA Sakura merupakan sekolah yang menjuruskan
pembelajaran siswanya sejak dini. Semua siswa diwajibkan mengikuti mata
pelajaran matematika, PBSB dan Agama. Untuk yang lain merupakan mata pelajaran
penjurusan. Di SMA Sakura ada beberapa jurusan yang bisa di ambil, yakni Bahasa
dan Sastra, IPA, IPS, Seni. Masing masing jurusan memiliki mata pelajaran yang
wajib diambil selama masa studi. Aku mulai memilih. Sesuai tes masuk aku memiliki
kesempatan untuk memilih salah satu dari keempat jurusan tersebut. Berbeda dengan
kak habib yang hanya diperbolehkan memilih antara seni dan bahasa. Aku memilih
IPA. Setelah usai memilih mata pelajaran yang ditawarkan aku menutup laptopku
dan beristirahat.
*******


